Selasa, 18 Desember 2012


ACUAN DAN PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN

Di Susun Guna Memenuhi Tugas Ulangan Akhir Semester (UAS)
Mata Kuliah: Pengembangan Kurikulum
Dosen Pengampu: Dr. H. Imam Suraji,M.Ag



Disusun Oleh:

Kelompok 6

Nama : Rizqon Budi Santoso
NIM : 2021110033
Kelas :A


PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2012


BAB 1
PENDAHULUAN

Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan betakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, akhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) disusun dengan mengacu pada Standar Isi dan (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang telah ditetapkan oleh pemerintah untuk menjamin pencapaian tujuan pendidikan nasional. Penyusunan KTSP berpedoman pada panduan yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan Pendidikan (BSNP) dan ketentuan lain yang menyangkut kurikulum dalam UU 20/2003 dan PP 19/2005.
Penyusunan KTSP sangat diperlukan untuk mengakomodasi semua potensi yang ada di daerah dan untuk meningkatkan kualitas satuan pendidikan dalam bidang akademis maupun non akademis, memelihara budaya daerah, mengikuti perkembangan iptek yang dilandasi iman dan takwa.










BAB II
PEMBAHASAN

  1. Pengertian dan Karakteristik KTSP
  1. Pengertian Kurikulum KTSP
Dalam proses pendidikan, kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Tanpa kurikulum yang sesuai dan tepat akan sulit untuk mencapai tujuan dan sasaran pendidikan yang diinginkan. Sebagai alat yang penting untuk mencapai tujuan, kurikulum hendaknya dapat menyesuaikan terhadap perubahan zaman dan kemajuan ilmu pengetahuan serta canggihnya teknologi.
Disamping itu, kurikulum harus bisa memberikan arahan dan patokan keahlian kepada peserta didik setelah menyelesaikan suatu program pengajaran pada suatu lembaga. Oleh karena itu, wajar bila kurikulum selalu berubah dan berkembang sesuai dengan kemajuan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang terjadi.
Sebelum jauh membahas tentang Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) hendaknya kita mengetahui terlebih dahulu tentang pengertian kurikulum itu sendiri. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, Pasal 1 ayat 19.1
Dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP Pasal 1, ayat 15), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan.2 Dalam sumber lain disebutkan bahwa KTSP adalah suatu ide tentang pengembangan  kurikulum yang diletakkan pada posisi yang paling dekat dengan pembelajaran, yakni sekolah dan satuan pendidikan.3
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang merupakan penyempurnaan dari kurikulum 2004 (KBK) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan/ sekolah.4
Dari beberapa sumber tersebut, jelas dikatakan bahwa pengertian KTSP merupakan kurikulum yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Penyusunan KTSP dilakukan oleh satuan pendidikan dengan memperhatikan dan berdasarkan standar kompetensi serta kompetensi dasar yang dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).
Dalam KTSP, pengembangan kurikulum dilakukan oleh guru, kepala sekolah, serta komite sekolah dan dewan pendidikan. Beberapa hal yang perlu dipahami dalam kaitannya dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah sebagai berikut:
  • KTSP dikembangkan sesuai dengan kondisi satuan pendidikan, potensi dan karakteristik daerah, serta sosial budaya masyarakat setempat dan peserta didik.
  • Sekolah dan komite sekolah mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan, di bawah supervisi dinas pendidikan kabupaten/ kota, dan departemen agama yang bertanggung jawab di bidang pendidikan.
  • tingkat satuan pendidikan untuk setiap program studi di perguruan tinggi dikembangkan dan ditetapkan oleh masing-masing perguruan tinggi dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan.5

  1. Karakteristik KTSP
Kurikulum terdiri atas 4 desain, yakni desain kurikulum disiplin ilmu atau yang dikenal dengan kurikulum subjek akademis, kurikulum pengembangan individu yang sering kita kenal dengan kurikulum humanistik, kurikulum berorientasi pada pada kehidupan masyarakat atau yang kita kenal dengan rekontruksi sosial serta kurikulum teknologis.Dihubungkan dengan konsep dasar dan desain kurikulum diatas, maka KTSP memiliki unsur tersebut yang sekaligus merupakan karakteristik KTSP itu sendiri yakni:
  •  Dilihat dari desainnya KTSP adalah kurikulum yang beroriantasi kepada disiplin ilmu. Hal ini dapat kita lihat pertama, struktur program KTSP yang memuat sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik. Kedua, kriteria keberhasilan KTSP lebih banyak di ukur dari kemampuan siswa menguasai materi pelajaran .
  • KTSP adalah kurikulum yang berorientasi pada pengembangan individu. Hal ini dapat dilihat dari prinsip-prinsip pembelajaran dalam KTSP yang menekankan pada aktivitas siswa untuk mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran melalui berbagai pendekatan dan strategi pembelajaran yang disarankan.
  • KTSP adalah kurikulum yang mengakses kepentingan daerah. Hal ini tampak pada salah satu prinsip KTSP, yakni berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya.
  • KTSP merupakan kurikulum teknologis. Hal ini dapat dilihat dari adanya standar kompetensi, kompetensi dasar yang kemudian dijabarkan pada indikator hasil belajar, yakni sejumlah perilaku yang terukur sebagai bahan penilaian.6

  1. Acuan Oprasional Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
KTSP disusun dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
  1. Peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia.
Keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia menjadi dasar pembentukan kepribadian peserta didik secara utuh. Kurikulum disusun yang memungkinkan semua mata pelajaran dapat menunjang peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia dengan demikian maka seluruh mata pelajaran yang disusun serta pengalaman belajar yang diberikan pada anak didik semuanya diarahkan untuk membentuk keimanan, ketakwaan, serta pembentukan watak yakni pembentukan akhlak mulia..7
  1. Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan peserta didik.
Pendidikan merupakan proses sestematik untuk meningkatkan martabat manusia secara holistic yang memungkinkan potensi diri (efektif, kognitif, psikomotor) berkembangan secara optimal. Sejalan dengan itu, kurikulum disusun dengan memperhatikan potensi, tingkat perkembangan, minat, kecerdasan intelektual, emosional dan sosial, spiritual, dan kinestetik peserta didik.
  1. Keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan.
Daerah memiliki potensi, kebutuhan, tantangan, dan keragaman karakteristik lingkungan. Masing-masing daerah memerlukan pendidikan sesuai dengan karakteristik daerah dan pengalaman hidup sehari-hari. Oleh karena itu, kurikulum harus memuat keragaman tersebut untuk menghasilkan lulusan yang relavan dengan kebutuhan pengembangan daerah.
  1. Tuntutan pembangunan daerah dan nasional.
Dalam era otonomi dan disentralisasi untuk memujudkan pendidikan yang otonom dan demokratis perlu memperlihatkan keragaman dan mendorong partisipasi manyarakat dengan tetap mengedepankan wawasan nasional. Untuk itu, kebudayaan harus di tampung secara berimbang dan saling mengisi
  1. Tuntutan dunia kerja.
Kegiatan pembelajaran harus dapat mendukung tumbuh kembangnya pribadi peserta didik yang berjiwa kewirausahaan dan mempunyai kecakapan hidup. Oleh sebab itu, kurikulum perlu memuat kecakapan hidup untuk membekali peserta didik memasuki dunia kerja. Hal ini sangat penting terutama bagi satuan pendidikan kejuruan dan peserta didik yang tidak melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi.8
  1. Perlembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
Kurikulum harus dikembangkan secara berkala dan berkesinambungan sejalan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni.9 Pendidikan perlu mengantisipasi dampak global yang membawa masyarakat yang berbasis pengetahuan dimana IPTEK sangat berperan sebagai penggerak utama perubaha. Pendidikan harus terus menerus melakukan adaptasi dan penyesuaian perkembangan IPTEK sehingga tetap relavan dan kontekstual dengan perubahan. Oleh karena itu, kurikulum harus dikembangkan secara berkala dan berkesinambungan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
  1. Agama.
Kurikulum harus dikembangkan untuk mendukung peningkatan iman dan taqwa serta akhlak mulia dengan tetap memelihara toleransi dan kerukunan umat beragama. Oleh karena itu, muatan kurikulum semua mata pelajaran harus ikut mendukung peningkatan iman, taqwa dan akhlak mulia.
  1. Dinamakan perkembangan global.
Pendidikan harus menciptakan kemandirian, baik pada individu maupun bangsa, yang sangat penting ketika dunia digerakan oleh pasar bebas. Pergaulan antar bangsa yang semakin dekat memerlukan individu yang mandiri dan mampu bersaing serta mempunyai kemampuan untuk hidup berdampingan dengan suku dan bangsa lain.
  1. Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.
Pendidikan diarahkan untuk membangun karakter dan wawasan kebangsaan peserta didik yang menjadi landasan penting bagi upaya memelihara persatuan dan kesatuan bangsa dalam kerangka NKRI. Oleh karena itu, kurikulum harus mendorong berkembangnya wawasan dan sikap kebangsaan serta persatuan nasional untuk memperkuat keutuhan bangsa dalam wilayah NKRI.
  1. Kondisi sosial budaya masyarakat setempat.
Kurikulum harus dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik sosial budaya masyarakat setempat dan menunjang kelestarian keragaman budaya. Penghayatan dan apresiasi pada budaya setempat harus terlebih dahulu di tumbuhkan sebelum mempelajari budaya dari daerah dan bangsa lain.
  1. Kesetaraan gender.
Kurikulum harus diarahkan kepada terciptanya pendidikan yang berkeadilan dan memperhatikan kesetaraan gender.
  1. Karakteristik satuan pendidikan.
Kurikulum harus dikembangkan sesuai dengan visi, misi, tujuan, kondisi, dan cirri khas satuan pendidikan.
Aspek-aspek diatas harus dijadikan acuan oleh para pengembang kurikulum tingkat satuan pendidikan di sekolah masing-masing. Meskipun demikian para pengembang kurikulum tidak harus terpaku pada acuan oprasional diatas, tetapi mereka bias mengembangkan, dan menyesuaikan acuan tersebut dengan situasi dan kondisi daerah, karakteristik dan kemampuan peserta didik, serta sarana dan prasarana yang tersedia.10
  1. Prinsip Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
 Dalam standar nasional Pendidikan ( SNP pasal 1, ayat 15 ) dikemukakan bahwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) adalah kurikulum operational yang disusun dan dilaksanakan masing-masing satuan pendidikan. Penyusunan KTSP dilakukan oleh satuan pendidikan dengan memperhatikan dan berdasarkan standar kompetensi serta kompetensi dasar yang dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan ( BSNP )
Kebijakan dalam mengembangkan kurikulum KTSP itu sendiri prinsip umumnya yaitu sesuai yang dikemukakan oleh Nana Syodih Sukmadinata ( 2005: 150-155 )
  1. Prinsip relevensi
Kurikulum harus memiliki relevansi keluar dan di dalam kurikulum itu sendiri. Dalam prinsip ini kurikulum harus sesuai dengan tujuan dan isi kurikulum itu sendiri. Sekolah dalam menyelenggarakan  kurikulum harus relevan dan konsisten disesuaikan dengan
  1. Prinsip fleksibilitas
Kurikulum hendaknya memiliki sifat lentur atau fleksibel yaitu kurikulum itu disesuaikan dengan kondisi daerah , waktu, kemampuan dan latar belakang anak. Kurikulum dibuat disesuaikan dengan kebutuhan  masyarakat dalam daerah tersebut.
  1. Prinsip kontinuitas
Perkembangan dan proses belajar anak berlangsung secara berkesinambungan artinya dalam pembelajaran itu terdapat proses yang terus menerus dan kurikulum juga harus mempunyai sifat berkesinambungan antara satu tingkat kelas dengan kelas yang lain.
  1. Prinsip kepraktisan / efisiensi
Kurikulum juga harus memiliki sifat praktis artinya kurikulum tersebut mudah dilaksanakan dan mudah diterapkan dalam dunia pendidikan menjawab tantangan-tantangan yang ada dalam masyarakat, dapt diterpakan dengan media pembelajaran yang sederhana dan memerlukan biaya yang murah.
  1. Prinsip efektifitas
Prinsip kurikulum harus efektif baik secara kontinuitas maupun kualitas.
Sedangkan prinsip khususnya yang berpedoman pada standar kompetensi lulusan dan standar isi serta panduan BSPN,  dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum sebagai berikut ( Permendiknas, No. 22 Tahun 2006 )11
  1. Berpusat dari potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta dan lingkungannya.
Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki potensi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan.12 Memiliki posisi sentral berarti kegiatan pembelajaran berpusat pada peserta didik.
  1. Beragam dan terpadu.
Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, jenjang dan jenis pendidikan, serta menghargai dan tidak diskriminatif terhadap perbedaan agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi dab jender. Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan tepat antarsubstansi.
  1. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang berkembang secara dinamis. Oleh karena itu, semangat dan isi kurikulum memberikan pengalaman belajar peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
  1. Relavan dengankebutuhan kehidupan.
Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk didalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha dan dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan pribadi , keterampilan berpikir, keterampilan sosial, ketrampilan akademik, dan keterampilan vokasional merupakan keniscayaan.
  1. Menyuruh dan berkesinambungan.
Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan.
  1. Belajar sepanjang hayat.
Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan, dan pemberdayaan pesrta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antar unsur- unsur pendidikan formal, non formal, dan informal dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.
  1. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah.
Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kepentingan nasional dan kepentingan daerah harus saling mengisi dan memperdayakan sejalan dengan motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) .13

ANALISIS
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun, dikembangkan, dan dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan dengan memperhatikan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan Badan Standar Nasional Pendidikan ( BSNP ). Dalam pengembangan KTSP tidak akan lepas dari ketetapan-ketetapan yang disusun pemerintah secara nasional. Artinya sekolah hanya diberi kemenangan mengembangkan kurikulum akan tetapi sebatas pada pengembangan oprasionalnya saja. Sedangkan yang menjadi rujukan pengembangan itu sendiri ditentukan oleh pemerintah. Para pengembang kurikulum di daerah memiliki keleluasaan dalam mengembangkan kurikulum menjadi unit-unit pelajaran, misalnya dalam mengembangkan strategi, metode, media dll. Para pengembang kurikulum tidak harus terpaku pada acuan oprasional diatas, tetapi mereka bias mengembangkan, dan menyesuaikan acuan tersebut dengan situasi dan kondisi daerah, karakteristik dan kemampuan peserta didik, serta sarana dan prasarana yang tersedia.
BAB III
PENUTUP

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan.Dari sejumlah prinsip dan acuan operasional KTSP di atas tampak bahwa pengembangan potensi diri siswa sebagai individu, aspek sosial masyarakat, penguasaan mata pelajaran/ipteks, dan aspek Ketuhanan juga diperhatikan. Meskipun berbasis kompetensi tidak berarti hanya ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperhatikan, unsur kemanusiaan, sosial, dan spiritual juga tidak dilepaskan.  Sedangkan apabila ditinjau dari model pendekatan pengembangannya, kurikulum 2006/KTSP menerapkan pendekatan dekonsentrasi, yaitu campuran antara setralistik dan desentralistik.
Demikianlah akhir dari pembahasan makalah ini. Kami sadar betul akan banyaknya kesalahan-kesalahan yang ada di dalam makalah ini. Namun, di balik semua itu, kami sangat berharap pembaca sekalian dapat mengambil hikmah dan maanfaatnya dari makalah ini. Sungguh tidak bergunanya suatu karya tanpa memberikan manfaat kepada penikmatnya








DAFTAR PUSTAKA
Haryati, Mimin. 2008. Model dan Teknik Penilian pada Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Gaung Persada Press.
Muslich, Mansur. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara,.
Mulyasa. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Sebuah Panduan Praktis. Bandung: Remaja Rosdakariya .
Khaeruddin, Mahfud Junaedi, dkk.. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) : Konsep dan implementasinya di madrasah. Yogyakarta, Nuansa Aksara
Sanjaya, Wina. 2010, Kurikulum dan Pembelajaran : Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP),.Jakarta : Kencana
Trianto. 2011. Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: PT Bumi Aksara
Admin, 2012, http://pmat.uad.ac.id/prinsip-pengembangan-kurikulum.html, Diakses Tanggal 16 Desember 2012.


1 Khaeruddin, Mahfud Junaedi, dkk. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan(Konsep dan Implementasinya di Madrasah), (Yogyakarta: Pilar Media, 2007), hlm. 79.

2  E. Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Sebuah Panduan Praktis), (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007), hlm. 19-20.

3 Ibid , hlm. 21.

4 Masnur Muslich, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2007), hlm. 10.

5 E. Mulyasa,  Op Cit  hlm. 20.


6 Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran : Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), (Jakarta : Kencana, 2010), hlm. 130-131


7 Ibid. hlm. 139

8 Khaeruddin, Mahfud Junaedi, dkk Op Cit, hlm. 79-84

9 Mimin Haryati, Model dan Teknik Penilian pada Tingkat Satuan Pendidikan, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2008), hlm. 188-190



10 E. Mulyasa, Op Cit, hlm. 168-169


11 Admin, http://pmat.uad.ac.id/prinsip-pengembangan-kurikulum.html, 2012, Diakses Tanggal 16 Desember 2012.


12 Trianto, Model Pembelajaran Terpadu, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2011), hlm. 22-23


13 Mansur Muslich, Op Cit hlm. 11-12


Sabtu, 15 Desember 2012


RINGKASAN MATERI PENGEMBANGAN KURIKULUM

Di Susun Guna Memenuhi Tugas Ulangan Tengah Semester (UTS)
Mata Kuliah: Pengembangan Kurikulum
Dosen Pengampu: Dr. H. Imam Suraji,M.Ag



Disusun Oleh:

RIZQON BUDI SANTOSO
(2021110033)

Kelas:A


PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2012


HAKIKAT, FUNGSI DAN KEDUDUKAN KURIKULUM


A.    Hakikat Kurikulum dalam Pendidikan
1)      Pengertian Kurikulum
Kurikulum adalah niat dan harapan yang dituangkan dalam bentuk rencana atau program pendidikan untuk dilaksanakan oleh guru di sekolah. Isi kurikulum adalah pengetahuan ilmiah, termasuk kegiatan dan pengalaman belajar, yang disusun sesuai dengan taraf perkembangan siswa.
Ada dua hal yang tersirat dalam pengertian kurikulu di atas, pertama adalah program atau rencana atau niat/ harapan/ keinginan dan kedua adalah pengalaman belajar atau kegiatan nyata/ praktik nyata. Aspek yang pertama, yakni rencana/ program pada hakikatnya adalah kurikulum potensial. Wujud nyata dari kurikulum potensial adalah kurikulum yang dituangkan dalam garis-garis besar program pengajaran (GBPP), beserta petunjuk pelaksanaannya. Sedangkan aspek kedua pada hakikatnya adalah kurikulum aktual adalah  kegiatan nyata pada saat proses belajar mengajar berlangsung atau lebih popular disebut proses pengajaran.
Oprasionalisasi pendidikan di tempuh melalui kurikulum dan oprasionalisasi kurikulum ditempuh melalui pengajaran. Dengan perkataan lain kurikulum adalah alat atau sarana untuk mencapai tujuan pendidikan melalui proses pengajaran.

2)      Landasan Kurikulum
Ada 3 landasan dalam pelaksanaan, membina dan mengembangkan kurikulum, ketiga landasan tersebut adalah landasan filosofis, social budaya dan psikologis.
a)      Landasan Filosofi
Membina dan mengembangkan kurikulum di sekolah, nilai-nilai yang terkandung dalam rumusan tujuan pendidikan harus menjadi acuan yang mendasar dalam mewujudkan praktik pendidikan di sekolah, sehingga menghasilkan anak didik menjadi manusia yang beriman, berilmu dan beramal dalam kondisi serasi, selaras dan seimbang.
b)      Landasan Sosial Budaya
Pendidikan adalah proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia dalam konteks itulah anak didik dihadapkan dengan budaya manusia, dibina dan dikembangkan sesuai dengan nilai budayanya.
c)      Landasan Psikologis
Melalui pendidikan diharapkan adanya perubahan pribadi menuju kedewasaan. Psikologi perkembangan diperlukan dalam menetapkan isi kurikulum yang diberikan kepada siswa agar tingkat kelulusan dan kedalaman bahan pelajaran sesuai dengan perkembangan anak.

B.     Fungsi Kurikulum
Kurikulum merupakan suatu instrument untuk mencapai tujuan oleh karena itu hasilnya harus dapat memenuhi tujuan yang dikehendaki. Jadi, fungsi kurikulum disini antara lain.
a)      Dalam rangka mencapai tujuan pendidikan
Adalah sebagai instrument atau jembatan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
b)      Fungsi bagi Anak
Diharapkan agar mendapat sejumlah pengalaman yang baru yang dapat dikembangkan sesuai perkembangan anak untuk melengkapi bekal hidupnya.
c)      Fungsi bagi Guru
1.      Sebagai pedoman kerja dalam menyusun pengalaman belajar pada anak didik.
2.      Sebagai pedoman untuk mengadakan evaluasi terhadap perkembangan anak didik.
d)     Fungsi bagi Kepala Sekolah
1.      Sebagai pedoman mengadakan fungsi supervise ke arah yang lebih baik.
2.      Untuk mengembangkan kurikulum lebih baik
3.      Sebagai pedoman evaluasi kemajuan belajar mengajar.
e)      Fungsi bagi Orang Tua Murid
Agar orang tua dapat turut serta membantu usaha sekolah dalam memajukan putra-putrinya.
f)       Fungsi bagi Sekolah bagi tingkat atasannya
-          Pemeliharaan keseimbangan proses pendidikan
-          Penyiapan tenaga baru
g)      Fungsi bagi Masyarakat
-          Ikut memberikan kritik konstruktif dalam rangka penyempurna program pendidikan agar lebih serasi dengan kebutuhan masyarakat dan lapangan kerja.

C.    Kedudukan Kurikulum
Kurikulum mempunyai kedudukan sentral dalam seluruh proses pendidikan. Kurikulum mengarahkan segala bentuk aktivitas pendidikan demi tercapainya tujuan-tujuan pendidikan. Menurut Mauritz Johnson (1967, hlm. 130). “Describes (or at least anticipates) the result of in struction” kurikulum juga merupakan suatu rencana pendidikan, memberikan pedoman dengan pegangan tentang jenis, lingkup dan urutan isi, serta proses pendidikan. Di samping kedua fungsi itu kurikulum juga merupakan suatu bidang studi yang ditekuni oleh para ahli atau spesialis kurikulum yang menjadi sumber konsep-konsep atau memberikan landasan-landasan teoritis bagi pengembangan kurikulum berbagai institusi pendidikan.[1]



STRUKTUR DAN ORGANISASI KURIKULUM

A.    Struktur Kurikulum
Struktur kurikulum merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Kedalaman muatan kurikulum pada setiap mata pelajaran, pada setiap satuan pendidikan dituangkan dalam kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik sesuai dengan beban belajar yang tercantum dalam struktur kurikulum.
  1. Struktur Kurikulum SD/MI
Struktur kurikulum SD/MI meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama enam tahun mulai kelas I sampai kelas IV.
  1. Struktur Kurikulum SMP/MTs
Strukut kurikulum SMP/MTs meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun mulai kelas VII sampai IX.
  1. Struktur Kurikulum SMA/MA
Struktur kurikulum SMA/MA meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama enam tahun mulai kelas X sampai kelas XII.
  1. Struktur Kurikulum Pendidikan Kejuruan
Pendidikan Kejuruan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejujurannya.

B.     Organisasi Kurikulum
Terdapat tiga bentuk organisasi kurikulum yang berorientasi pada disiplin ilmu, sebagai berikut:

  1. Subject Centered Curriculum
Pada subject centered curriculum, bahan atau isi kurikulum disusun dalam bentuk mata pelajaran yang terpisah-pisah misalnya: mata pelajaran sejarah, ilmu bumi, kimia, fisika, berhitung dan sebagainya. Semua mata pelajaran itu tidak berhubungan satu sama lain. Pada pengembangan kurikulum di dalam kelas atau kebiasaan belajar mengajar, setiap guru hanya bertanggung jawab pada mata pelajaran yang diberikannya. Kalaupun mata pelajaran itu diberikan oleh guru yang sama, maka ini juga dilaksanakan secara terpisah-pisah. Oleh karena organisasi bahan atau isi kurikulum berpusat pada mata pelajaran secara terpisah-pisah, maka kurikulum ini juga dinamakan suprated subject curriculum.

  1. Correlated Curriculum
Pada organisasi kurikulum ini, maka pelajaran tidak disajikan secara terpisah akan tetapi mata pelajaran–mata pelajaran yang memiliki kedekatan atau mata pelajaran sejenis dikelompokkan sehingga menjadi suatu bidang study (brodfeld), seperti mata pelajaran geografi, sejarah, ekonomi dikelompokkan dalam bidang studi IPS demikian juga dengan mata pelajaran biologi, kimia, fisika dikelompokkan menjadi Bidang Studi IPA.
Mengorelasikan bahan atau isi materi kurikulum dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan, yaitu:
·         Pendekatan Struktural
Dalam pendekatan ini, kajian suatu pokok bahasan ditinjau dari beberapa mata pelajaran sejenis.
·         Pendekatan Fungsional
Pendekatan ini didekatkan kepada pengkajian masalah yang berarti dalam kehidupan sehari-hari.
·         Pendekatan Daerah
Pendekatan ini materi pelajaran ditentukan berdasarkan lokasi atau tempat.

  1. Intregrated Curriculum
Pada organisasi kurikulum yang menggunakan model integrated, tidak lagi menampakkan norma-norma mata pelajaran atau bidang studi. Belajar dari suatu pokok masalah yang harus dipecahkan. Masalah tersebut kemudian dinamakan unit. Belajar berdasarkan unit bukan hanya menghafal sejumlah fakta, akan tetapi juga mencari dan menganalisis sebagai bahan untuk memecahkan masalah.[2]


KOMPONEN-KOMPONEN KURIKULUM

A.    Tujuan
Dalam kurikulum atau pengajaran, tujuan memegang peranan penting, akan mengarahkan semua kegiatan pengajaran dan mewarnai komponen-komponen kurikulum lainnya. Tujuan kurikulum dirumuskan berdasarkan dua hal, pertama, perkembangan tuntunan, kebutuhan dan kondisi masyarakat. Kedua, didasari oleh pemikiran-pemikiran dan terarah pada pencapaian nilai-nilai filosofis, terutama falsafal Negara.
Dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah 1975/1976 dikenal kategori tujuan sebagai berikut:
1)      Tujuan Pendidikan Nasional, merupakan tujuan jangka panjang, tujuan ideal pendidikan bangsa Indonesia.
2)      Tujuan Institusional, merupakan sasaran pendidikan sesuatu lembaga pendidikan.
3)      Tujuan Kurikuler, adalah tujuan yang ingin dicapai oleh sesuatu program studi.
4)      Tujuan Instruksional, merupakan target yang harus dicapai oleh sesuatu mata pelajaran.
a)      Tujuan instruksional umum (berjangka panjang)
b)      Tujuan instruksional khusus (berjangka pendek)
Dalam kegiatan belajar mengajar di dalam kelas, tujuan-tujuan khusus lebih diutamakan, karena lebih jelas dan mudah pencapaiannya.
  1. Keuntungan
1.      Tujuan khusus memudahkan dalam mengkomunikasikan maksud kegiatan belajar-mengajar kepada siswa.
2.      Membantu guru dalam memilih dan menyusun bahan ajar.
3.      Memudahkan guru menentukan kegiatan belajar dan media mengajar.
  1. Kekurangan
1.      Sukar menyusun tujuan-tujuan khusus menghadapi beberapa kesukaran.
2.      Sukar menyusun tujuan-tujuan khusus pada tingkat tinggi.
Beberapa ahli sepakat bahwa, tujuan khusus merupakan suatu perilaku yang diperlihatkan siswa pada akhir suatu kegiatan belajar.

B.     Bahan Ajar
  1. Sukens Bahan Ajar
Untuk mencapai tiap tujuan mengajar yang telah ditentukan diperlukan bahan ajar. Bahan ajar tersusun atas topik-topik dan sub-sub topic tertentu. Tiap topic atau sub topic mengandung ide-ide pokok yang relevan.

Ada beberapa untuk menyusun sekuens bahan ajar, yaitu:
a)      Sekuens kronologis, untuk menyusun bahan ajar yang mengandung urutan waktu.
b)      Sekuens kausal, cocok untuk menyusun bahan ajar dalam bidang meteorology dan geomorfologi.
c)      Sekuens struktural, bagian-bagian bahan ajar suatu bidang tertentu telah mempunyai struktur tertentu.
d)     Sekuens logis dan psikologis.
e)      Sekuens spiral, bahan ajar dipusatkan pada topik atau pokok bahan tertentu.
f)       Rangkaian ke belakang (backword chaining), mengajar di mulai dengan langkah terakhir dan mundur ke belakang.
g)      Sekuens berdasarkan hierarki belajar. Model ini dikembangkan oleh gegne (1965) dengan prosedur pembelajaran di analisis, kemudian dicari suatu hierarki urutan bahan ajar untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.

C.    Strategi Mengajar
Ada beberapa strategi yang dapat digunakan dalam mengajar, Rowntree (1974), membagi strategi mengajar itu.
a)      Reception/Exposition Learning – Discovery Learning
Dalam exposition atau reception learning keseluruhan bahan ajar disampaikan kepada siswa dalam bentuk akhir atau jadi. Baik secara lisan atau tertulis. Siswa tidak dituntut untuk mengolah, melakukan aktivitas lain kecuali menguasainya. Dalam discovery learning bahan ajar disajikan dalam bentuk akhir, siswa dituntut untuk melakukan berbagai kegiatan, menghimpun informasi,membandingkan, mengkategorikan, menganalisis, mengintegrasikan, mereorganisasikan bahan serta membuat kesimpulan.

b)      Rote Learning – Meaningful Learning
Dalam Rote Learning bahan ajar disampaikan kepada siswa tanpa memperhatikan arti atau makna bagi siswa-siswa menguasai bahan ajar dengan menghafalkannya. Dalam meaningful learning penyampaian bahan mengutamakan maknanya bagi siswa.

c)      Grup Learning – Individual Learning
Pelaksanaan discovery learnig menuntut aktifitas belajar yang brsifat individual atau dalam kelompok-kelomok kecil.

D.      Media Mengajar
Media mengajar merupakan segala macam bentuk perangsang dan alat yang disediakan untuk mendorong siswa belajar.
Rowntree (1974: 104-113) mengelompokkan media mengajar menjadi 5 macam:
1.    Interaksi Insani, media ini merupakan kumikasi langsung antara 2 orang/ lebih.
2.    Realita, merupakan bentuk perangsang berbagai nyata seperti orang binatang, benda dan sebagainya.
3.    Pictorial, Menunjukkan penyajian berbagai bentuk variasi gambar dan diagram, film, kaset dansebagainya.
4.    Simbol tertulis, merupakan media penyajian informasi yang paling umum, tetapi paling efektif.
5.    Rekaman suara, berbagai bentuk informasi dapat disampaikan kepada anak dalam bentuk remakan suara.
E.       Evaluasi pengajaran
Evaluasi ditunjukkan untuk memikat pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditentukan serta memulai proses pelaksanaan mengajar secara keseluruhan.
a)         Evaluasi Belajar Mengajar
Dalam evaluasi ini disusun butir-butir soal untuk mengukur tiap tujuan khusus yang telah ditentukan. Menurut lingkup luas bahan dan jangka waktu belajar dibedakan antara evaluasi formatif dan sumatif.
Evaluasi formatif di tunjukkan untuk menilai penguasaan siswa terhadap tujuan-tujuan belajar dalam jangka waktu yang relatif pendek, dalam kurikulum dasar dan menengah evaluasi formatif digunakan untuk menilai penguasaan siswa setelah selesai mempelajari satu pokkok bahasan.
Evaluasi sumatif ditunjukkan untuk menilai gagasan siswa terhadap tujuan-tujuan yang lebih luas, sebagai hasil belajar dalam jangka waktu yang cukup lama, satu semester atau satu tahun/ selama jenjang pendidikan.
F.        Penyempurnaan Pengajaran
Pada dasarnya semua komponen mengajar mempunyai kemungkinan untuk disempurnakan. Satu komponen mendapat prioritas lebih dulu atau mendapatkan penyempurnaan lebih banyak dilihat dari peranannya dan tingkat kelemahannya.
D.    Rowtree menyempurnakan juga mungkin dilakukan secara langsung begitu didapatkan sesuatu informasi umpan balik atau ditangguhkan sampai jangka waktu tertentu bergantung pada urgensinya dan kemungkinan mengadakan penyempurnaan. Penyempurnaan juga mungkin bersifat menyeluruh dan hanya menyangkut bagian-bagian tertentu. Semua hal tersebut bergantung pada kesimpulan-kesimpulan hasil evaluasi.[3]   


“SCOPE, BALANCE DAN SEQUENCE DALAM KURIKULUM”

A.      Scope
“Scope” mengenal apa yang akan diajarkan, yaitu ruang lingkup atau kas bahan pelajaran, jenis dan bentuk pengalaman-pengalaman belajar pada berbagai tingkat perkembangan anak guna mencapai tujuan-tujuan pendidikan.
Menentukan Scope, yakni apa yang harus diajarkan merupakan suatu masalah yang semakin lama makin bertambah sulit. Sebabnya ialah :
1.      Bahan pelajaran cepat bertambah luas karena ekplosi ilmu pengetahuan
2.      Belum ada kriteria yang pasti tentang bahan apa yang perlu diajarkan
3.      Mata pelajaran yang tradisional tidak lagi memadai.
Bahan ajar atau subject matter terdiri atas pengetahuan, nilai-nilai dan ketrampilan. Kurikulum yang dianggap lebih bermakna ialah bila bahan pelajaran dihubungkan/didasarkan atas pengalaman anak dalam kehidupannya sehari-hari. Bahan pembelajaran dipilih dari persediaan yang sangat luas yang dapat disajikan kepada anak-anak untuk dipelajari.
1.         Kriteria Bahan Ajar
a.       Dipilih berdasarkan tujuan yang hendak dicapai
b.      Bahan pelajaran dipilih karena dianggap sebagai warisan generasi yang lampau
c.       Dipilih karena berguna untuk menguasai suatu disiplin
d.      Bahan pelajaran dipilih karena dianggap berharga bagi manusia dalam hidupnya
e.       Bahan pelajaran dipilih karena sesuai dengan kebutuhan dan minat anak
2.         Prosedur Menentukan Bahan Pelajaran
a.       Prosedur menerima otoritas para ahli (berdasar pendapat suatu kel/otoritas )
b.      Prosedur eksperimen
c.       Prosedor alamiah dan analistis
d.      Prosedur consensus
B.     Balance
Dimensi pertimbangan (balance). Pertimbangan berkaitan dengan bagaimana mengembangkan kesempatan para peserta didik untuk menguasai satu pengetahuan tertentu. Menginternalisasikan dan mempergunakan sesuai dengan tujuan mereka masing-masing misalnya kesombongan antara teori dan praktik. Berapa persen materi dan berapa praktik itu tergantung dimana dan untuk tujuan apa kurikulum itu dipakai.
C.    Sequence
Dimensi pengurutan (sequence) ini dimaksudkan agar dalam menyusun kurikulum antara materi satu dan yang lain merupakan kajian yang berurutan, yang mendorong adanya keberlanjutan dalam proses pembelajaran. Urutan yang disarankan oleh Smith, Stanley dan Shores adalah dimulai dari materi yang sederhana kepada materi yang lebih kompleks.
Faktor-faktor yang turut menentukan urutan bahan pelajaran:
antara lain:
(1) kematangan anak,
(2) latar belakang pengalaman atau pengetahuan,
(3) tingkat inteligensi,
(4) minat,
(5) kegunaan bahan, dan
(6) kesulitan bahan pelajaran.
Biasanya guru berpegang pada urutan:
(1) dari mudah kepada yang sulit,
(2) dari yang sederhana kepada yang kompleks,
(3) dari keseluruhan kepada bagian-bagiannya atau
(4) sebaliknya, dari yang diketahui kepada yang belum diketahui, atau
(5) mengikuti urutan kronologis dalam sejarah dari dulu kepada masa
sekarang atau
(6) sebaliknya,
(7) dari yang konkret kepada yang abstrak,
(8) dari contoh-contoh konkret kepada generalisasi [4]










           


MACAM-MACAM KURIKULUM

Empat aliran pendidikan yaitu : Pendidikan klasikal, Pribadi, Teknologi dan Interaksionis. Empat aliran atau teori Pendidikan tersebut memiliki modal konsep kurikulum dan praktik pendidikan yang berbeda. Modal konsep kurikulum dari teori pendidikan klasikal disebut kurikulum subjek akademis, pendidikan pribadi disebut kurikulum humanistik, teknologi pendidikan disebut kurikulum teknologis, dan dari pendidikan interoksionis disebut kurikulum rekostruksi sosial.
A.      Kurikulum Akademis
Kurikulum subjuk akademis adalah model konsep kurikulum tertua dan masih sering dipakai sampai saat ini, karena kurikulum ini cukup praktis disusun, mudah digabungkan dengan tipe lainnya. Kurikulum subjek akademis bersumber dari pendidikan klasik (perenialisme dan esensialisme) yang berorientasi pada masa lalu. Kurikulum ini lebih mengutamakan isi pendidikan. Pada kurikulum ini, orang yang berhasi belajar adalah orang yang menguasai seluruh atau sebagian besar isi pendidikan yang diberikan atau disiapkan oleh guru.
Isi pendidikan disesuaikan dengan disiplin ilmu. Para pengembang kurikulum tidak perlu menyusun dan mengembangkan bahan sendiri, menentukan cukup mengorganisasi secara sistematis mengenai isi materi yang dikembangkan para ahli disiplin ilmu, sesuai dengan tujuan pendidikan dan tahap perkembangan siswa yang akan mempelajarinya. Kurikulum ini sangat mengutamakan pengetahuan maka pendidikannya lebih bersifat intelektual.
Ciri-ciri kurikulum subjek akademis:
1.    Bertujuan umum pemberian ide pengetahuan yang solid dan serta melatih para siswa menggunakan ide-ide dan proses “penelitian”
2.    Metode yang paling sering digunakan adalah metode ekspositiri dan inkuiri
3.    Materi/ ide-ide diberikan oleh guru yang kemudian dielaborasi oleh siswa sampai terkuasai.
B.       Kurikulum Humanistik
Kurikulum ini berdasarkan konsep aliran pendidikan pribadi (persoznalized education) yaitu John Dewey dan J. J Rouseal. Konsep ini lebih mengutamakan siswa yang merupakan subjek yang menjadi pusat utama kegiatan pendidikan. Selain itu, pendidik humanis lebih juga berpegang pada konsep bestbalt, bahwa seorang anak merupakan satu kesatuan yang menyeluruh. Pendidikan diarahkan kepada membina yang utuh bukan saja dari segi fisik dan intelektual tetapi juga segi sosial dan efektif (emosi, sikap, perasaan, nilai dll).
Ada tiga aliran yang termasuk dalam pendidikan humanistik:
1.    Pendidikan konfluen, merencanakan keutuhan pribadi, individu harus merespon secara utuh.
2.    Krilikisme Radikal, pendidikan sebagai upaya untuk membantu anak menemukan dan mengembangkan sendiri segala potensi yang dimilikinya.
3.    Pola-pola organisasi kurikulum ini disusun seperti sebuah roda, ditengah-tengahnya sebagai poros merupakan masalah yang menjadi tema utama.
C.       Kurikulum Rekonstruksioner Sosial
Kurikulum ini lebih memusatkan pada problem-problem yang dihadapi dalam masyarakat. Pada kurikulum ini. Pendidikan bukan upaya sendiri, melainkan kegiatan bersama, interaksi, dan kerja sama.
Ciri-ciri desain kurikulum ini adalah sebagai berikut:
1.    Bertujuan utama menghadapkan para siswa pada tantangan , ancaman, hambatan-hambatan atau gangguan-gangguan yang dihadapi manusia dalam masyarakat.
2.    Kegiatan belajar dipusatkan pada masalah-masalah sosial yang mendesak.
3.    Pola-pola organisasi kurikulum ini disusun seperti sebuah roda, ditengah-tengahnya sebagai poros merupakan masalah yang menjadi tema utama.
Komponen-komponen ini sebagai berikut:
a.     Tujuan dan isi kurikulum: tujuan program pendidikan setiap tahun berubah.
b.    Metode : belajar merupakan kegiatan bersama.
c.     Evaluasi : siswa dilibatkan dalam memilih, menyusun, dan menilai bahan yang akan diujikan.
D.      Kurikulum Teknologis
Perkembangan teknologi pada abad ini sangatlah pesat. Perkembangan teknologi tersebut mempengaruhi semua bidang, temasuk bidang pendidikan. Sejak dulu pendidikan telah menggunakan teknologi, sampai sekarang seiring dengan kemajuan teknologi banyak alat seperti : audio, video, OHP, film slide, dll.
Ciri-ciri kurikulum ini :
a.    Tujuan diarahkan pada penguasaan kompetensi yang dirumuskan dalam bentuk perilaku.
b.    Metode yang digunakan biasanya bersifat individual kemudian pada saat tertentu ada tugas-tugas yang harus dikerjakan secara kelompok. [5]
           

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

A.      Pengertian dan Karakteristik KTSP
1)        Pengertian
Dalam Standar Nasional Pendidikan (SWP padal 1 ayat 15) dijelaskan bahwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum opersional yang disusun dan dilaksanakn oleh masing-masing satuan pendidikan.
Ada beberapa hal yang berhubungan dengan makna kurikulum operasional.
a.    Dalam pengembangan KTSP tidak akan lepas dari ketetapan-ketetapan yang disusun pemerintah secara nasional. Artinya sekolah hanya diberi kemenangan mengembangkan kurikulum akan tetapi sebatas pada pengembangan oprasionalnya saja. Sedangkan yang menjadi rujukan pengembangan itu sendiri ditentukan oleh pemerintah.
b.    Sebagai kurikulum oprasional. Para pengembang kurikulum di daerah memiliki keleluasaan dalam mengembangkan kurikulum menjadi unit-unit pelajaran, misalnya dalam mengembangkan strategi, metode, media dll.
2)        Karakteristik KTSP
KTSP mempunyai karakteristik sebagai berikut:
a.    Dilihat dari dasarnya KTSP adalah kurikulum yang berorientasi pada disiplin ilmu.
b.    KTSP adalah Kurikulum yang berorientasi pada pengembangan individu.
c.    KTSP adalah Kurikulum yang mengakses kepentingan daerah.
d.   KTSP merupakan kurikulum teknologis.
B.       Tujuan KTSP
Secara umum tujuan ditetapkannya KTSP adalah untuk memancirikan dan memberdayakan satuan pendidikan melalui pemberian kewenangan (otonomi) kepada lembaga pendidikan. Melalui KTSP diharapkan dapat mendorong sekolah untuk melakukan program-program keputusan secara partisipatif dalam pengembangan kurikulum.
Secara khusus diterapkannya  KTSP adalah untuk :
1.    Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemadirian dan inisiatif sekolah dalam mengembangkan kurikulum, mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia.
2.    Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum melalui pengambilan keputusan bersama.
3.    Meningkatkan kompetisi yang sehat antar satuan pendidikan tentang kualitas pendidikan yang akan dicapai. 
C.       Dasar Penyusunan KTSP
Pengembangan KTSP didasarkan pada dua landasan pokok, yakni landasan empiris dan formal. Yang menjadi landasan empiris diantaranya adalah:
1.    Adanya kenyataan rendahnya kualitas pendidikan kita baik di lihat dari sudut proses maupun hasil belajar.
2.    Indonesia adalah negara yang sangat luas yang mempunyai keragaman sosial budaya dengan potensi dan kebutuhan yang berbeda.
Yang menjadi landasan formal, KTSP disusun dalam rangka memenuhi amanat yang tertuang dalam undang-undang RI no 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas dan Peraturan pemerintah RI no 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
D.      Prinsip-prinsip Pengembangan KTSP
1.    Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya.
2.    Beragam dan terpadu
3.    Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
4.    Relevan dengan kebutuhan kehidupan
5.    Menyeluruh dan berkesinambungan
6.    Belajar sepanjang hayat
7.    Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah.
Dalam mengimplementasikan KTSP juga harus memperhatikan prinsip-prinsip pelaksanaan diantaranya sebagai berikut:
1.         Peningkatan Iman dan takwa serta akhlak mulia
2.         Pengembangan potensi, kecerdasan dan minat sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan peserta didik.
3.         Keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan
4.         Tuntunan pengembangan daerah dan nasional
5.         Tuntutan dunia kerja
6.         Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni
7.         Agama
8.         Dinamika perkembangan global
9.         Persatuan dan nilai-nilai kebangsaan
10.     Kondisi sosial budaya masyarakat setempat
11.     Kesetaraan gender
12.     Karakteristik satuan pendidikan
E.       Komponen KTSP
1.      Tujuan pendidikan
2.      Struktur program dan muatan kurikulum
3.      Kalender pendidikan
4.      Silabus dan RPP
F.        Proses Penyusunan KTSP
1.      Analisis konteks
a.       Mengidentifikasi standar isi dan Standar kemampuan lulusan sebagai sumber dan acuan penyusunan KTSP
b.      Menganalisis kondisi yang ada dari satuan pendidikan yang meliputi peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, biaya dan program.
c.       Menganlisis peluang dan tantangan yang ada di masyarakat dan lingkungan sekitar, komite sekolah, dewan pendidikm dinas pendidikan, asosiasi profesi, dunia industri dan dunia kerja sumber daya alam dan sosial budaya. 
2.      Mekanisme penyusunan
a.       Tim Penyusun
·      Tim Penyusun KTSP pada SD, SMP, SMA dan SMK, terdiri atas guru konselor dan kepala sekolah sebagai ketua merangkap anggota.
·      Tim Penyusun KTSP pada MI, MTs, MA dan MAK, terdiri atas guru konselor dan kepala madrasah sebagai ketua merangkap anggota.
·      Tim Penyusun KTSP pada SDLB, SMPLB, dan SMALB, terdiri atas guru konselor dan kepala sekolah sebagai ketua merangkap anggota.
b.      Kegiatan
KTSP secara garis meliputi penyiapan dan penyusunan draf review serta finalis, pemantapan dan penilaian.
c.       Pemberlakuan
Dokumen KTSP pada SD, SMP, SMA dan SMK dinyatakan berlaku oleh Kepala Sekolah setelah mendapat pertimbangan dari komite sekolah dan diketahui oleh Kepala Sekolah dan diketahui oleh Dinas tingkat Kabupaten/ Kota yang bertanggung jawab dalam bidang pendidikan untuk SD dan SMP dan tingkat propinsi untuk SMA dan SMK.
Dokumen KTSP pada MI, MTs, MA dan MAK dinyatakan berlaku oleh Kepala Madrasah setelah mendapat pertimbangan dari komite madrasah dan diketahui oleh Departemen yang menangani urusan pemerintah dibidang agama.
Sedangkan di SLB. Setelah mendapat pertimbangan dari komite sekolah, juga diketahui oleh Dinas provinsi yang bertanggung jawab dalam bidang pendidikan. [6]










DAFTAR PUSTAKA

Prof. Dr. Nana Syaodih Sukmadinata. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. 1997.
Nana Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah. Bandung: Algensindo. 1996.
http://mymuslim-muslimat.blogspot.com/2012/02/struktur-dan-organisasi-kurikulum,html. (Di akses tanggal 18/09/2012. Pukul 11.30 WIB).

Prof. Dr.S.Nasution, M.A. “Asas-asas Kurikulum”, Jakarta: Bumi Aksara. 1995
Prof. Dr. Nana Syaodih Sukmadinata. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. 1997
Wina Sanjaya “Kurikulum dan Pembelajaran: Teori dan politik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)” Jakarta, Kencana : 2010.


[1] Nana Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah. Bandung: Algensindo. 1996.
[2] http://mymuslim-muslimat.blogspot.com/2012/02/struktur-dan-organisasi-kurikulum,html. (Di akses tanggal 18/09/2012. Pukul 11.30 WIB).

[3] Prof. Dr. Nana Syaodih Sukmadinata. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. 1997.

[4] Prof. Dr.S.Nasution, M.A. “Asas-asas Kurikulum”, Jakarta: Bumi Aksara. 1995. Hal. 230-250
[5] Prof. Dr. Nana Syaodih Sukmadinata. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. 1997.
[6] Wina Sanjaya “Kurikulum dan Pembelajaran: Teori dan politik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)” Jakarta, Kencana : 2010.